Jumat, 24 Februari 2017

Hari ini saya tepat berusia 29 tahun. Usia yang tidak bisa dibilang muda lagi, dan sebentar lagi masuk ke klub 30an. Ya, merenungkan kembali apa yang selama ini sudah dialami, saya mengucap syukur untuk pemeliharaan Tuhan selama ini. Bisa mendapat kesempatan untuk menjalani panggilan Tuhan, dan berstudi di seminari. Bukanlah sebuah hal yang mudah untuk dijalani. Namun saya percaya Tuhan yang menguatkan dan meneguhkan setiap perjalanan kehidupan saya, seperti yang sudah Tuhan nyatakan selama ini. Kiranya saya dapat menjalani studi dan panggilan saya dan tetap setia terhadap panggilan Tuhan.
0

Ini pertama kali saya mengikuti Festival Seni Aletheia (FSA) karena memang saya baru tingkat satu. Kegiatan yang ternyata diadakan setahun sekali ini sangat berkesan buat saya. Mengapa ? karena melalui acara FSA ini saya belajar bagaimana memberikan yang terbaik meskipun dihimpin berbagai jadwal kuliah yang padat. Saya bersama teman-teman tingkat satu harus mempersiapkan tampilan yang akan dilombakan pada kegiatan ini. Waktu hanya satu bulan untuk mempersiapkan empat kategori yang berbeda. Saya kebagian mempersiapkan tampilan stop motion. Meskipun tidak dapat juara satu, tetapi saya merasa sudah mengusahakan yang terbaik yang saya bisa bersama anggota tim saya. Tetapi untungnya untuk dua kategori lain yaitu video tutorial dan pantomin kita berhasil mendapatkan juara satu. Ini semua karena teman-teman tingkat satu sangat serius mempersiapkan hal ini meskipun dihimpin berbagai macam tugas dan kegiatan perkuliahan.

Kedua saya juga belajar bagaimana melihat teman-teman lain, bahwa mereka memiliki banyak bakat yang tersimpat. Mungkin di kelas mereka tidak terlalu kelihatan. Tetapi ada waktunya mereka menunjukkan kemampuan mereka di bidang-bidang yang memang mereka kuasai. Ini juga mengingatkan saya untuk tidak meremehkan orang lain.

Saya berharap tahun depan tingkat kami dapat menyapu bersih semua kategori juara yang diperlombakan, dan tingkat kami boleh semakin kompak selalu.
0

Selasa, 07 Februari 2017

Khotbah yang terbaik menurut saya adalah kesaksian hidup kita sendiri yang telah diubahkan oleh Kristus. Kata-kata itu saya simpulkan ketika saya mendengar sebuah khobah yang isinya sebuah kesaksian hidup dari seorang bernama Pdt. Sam Hsiao. 
Saya berpikir ibadah Chapel Pagi yang diadakan di kampus kemarin akan berjalan seperti biasanya. Ternyata saya keliru, ada seorang tamu istimewa yang datang bersama beberapa orang donatur kampus. Kedatangan Pdt. Sam, dalam rangka pelayanan bersama tim Mission Trip Kampus, dan gereja GKT Hosana ke daerah Ambon, dan Makasar.
Pdt. Sam dalam khotbahnya menceritakan bagaimana hidupnya telah diubahkan oleh Tuhan. Ia adalah seorang pemusik, pemain Saxophone tepatnya yang sangat terkenal di Taiwan dan hidupnya begitu duniawi serta sombong. Tapi Tuhan mau pakai dirinya, dan talenta musiknya untuk menceritakan tentang kebaikan Tuhan kepada banyak orang. Bukan hanya dirinya, Pdt. Sam juga menceritakan bagaimana keluarganya yang memiliki segudang masalah. Lahir dari lima bersaudara kakak-kakaknya banyak yang meninggal akibat ketergantungan obat-obatan, dan minuman keras. Bahkan ada salah seorang kakaknya yang melompat dari lantai lima dan lumpuh seumur hidupnya. Ayahnya pun tidak jauh berbeda, ketiak usia 7 tahun Pdt. Sam baru bisa melihat dirinya karena baru keluar penjara. Kejadian-kejadian yang buruk ini dianggap sebagai sesuatu yang baik dan berguna bagi Pdt. Sam untuk semakin mengenal kasih Tuhan. Ia mengutip Mazmur 119 :71, bahwa ketika tertindas itu baik baginya, karena dapat belajar ketetapan-ketetapan Tuhan. Ia percaya pengalaman-pengalaman yang buruk yang dialaminya membuktikan kalau Tuhan tidak pernah meninggalkannya. Penderitaan membuatnya lebih dekat kepada Tuhan.

Kadangkala Tuhan memakai cara-cara yang tidak saya mengerti untuk mendidik. Salah satunya melalui penderitaan. Apa yang Daud alami yang dituliskan dalam Mazmur 119:71 dan yang Pdt. Sam saksikan menjadi refleksi bagi saya bagaimana menjalani kehidupan yang penuh dengan permasalahan ini. Tuhan dapat memakai permasalahan, penderitaan dan pergumulan untuk membuat saya taat dan selalu dekat dengan Dia. Ketika mendapat permasalahan ingatlah akan Tuhan, dan selesaikan menurut cara dan kehendak-Nya. Hanya Tuhan yang tidak pernah meninggalkan saya seorang diri ketika menghadapai kesulitan. Kasih-Nya tetap untuk selamanya.
0

Rabu, 01 Februari 2017

Perayaan Tahun Baru Imlek 2586 yang jatuh pada 28 Januari 2015 ini saya rayakan dengan berbeda. Berbeda karena sekarang saya seorang mahasiswa yang sedang menempuh studi teologi, dan saya tinggal di asrama sehingga tidak bisa sesukanya pergi ke rumah untuk berkumpul bersama keluarga. Sesuai tradisi, biasanya malam imlek kami sekeluarga makan malam bersama tetapi kali ini saya harus menikmati makan malam bersama teman-teman di kampus.

Tahun baru Imlek pada hari sabtu juga membuat saya juga disibukkan dengan kegiatan pelayanan. Saya bersama tim Vokal Grup (VG) Aletheia mendapat kesempatan untuk melayani di GKT 2 Malang dalam ibadah perayaan Imlek. Bersama teman-teman kami bukan hanya menampilkan puji-pujian, tetapi keseluruhan ibadah. Mulai dari liturgis, khotbah, musik, dan persembahan pujian. Pelayanan bersama teman-teman VG dalam suasana Imlek membertikan pengalaman tersendiri bagi saya. Sekarang ini, bukan hanya keluarga di rumah yang saya miliki, tetapi ada juga keluarga STT Aletheia.
0

Author

Ch@T


ShoutMix chat widget