Judul di atas merupakan tema kotbah sabtu kemarin di komisi pemuda. awalanya saya sebagai pembuat warta pemuda sedikit bingung dengan judul tema tersebut. Tapi setelah mendengar kotbah yang dibawakan. Saya menjadi berpikir lagi tentang pelayanan yang saya lakukan selama ini. Kotbah tersebut secara spesifik menjelaskan tentang persembahan yang Tuhan inginkan dari kita. Kita dituntut bukan hanya mempersembahkan harta kekayaan kita tapi terlebih lagi kita harus mempersembahkan hidup kita. Bukan hal yang mudah untuk memberi kepada Tuhan persembahan yang hidup yaitu diri kita. Karena Tuhan mengingikan yang terbaik, bahkan mempersembahkan harta kita yang jelas-jelas asalnya dari Tuhan saja kita sering berkompromi.
Persembahan yang hidup yang bisa saya lakukan dan sudah saya lakukan selama ini adalah pelayanan saya kepada Tuhan. Pelayanan baik di komisi pemuda maupun di umum. Saya sebisa mungkin memberikan seluruh kemampuan yang saya miliki terutama dibidang komputer untuk membantu pelayanan di gereja tempat di mana saya beribadah. Terlebih lagi di komisi pemuda saya bahkan berani untuk menerima tantangan untuk menjadi pemusik, dunia yang dahulu asing bagi saya. Mengapa saya bisa menjadi pemusik? Karena saya merasa terbeban dengan kondisi pemusik yang ada di pemuda yang sangat kekurangan “sumber daya pemusik” ditengah-tengah banyaknya fasilitas yang tersedia. Sudah hampir satu tahun belakangan ini saya bergelut dengan yang namanya not angka, chord, lagu rohani, dan partitur. Hasilnya belum bisa dibilang bagus, tapi menurut saya sudah cukup sedikit membantu. Bukan hal mudah sekali lagi saya tuliskan ketika saya menerima tantangan untuk menjadi pemusik, banyak rintangan yang harus saya lewati yang kadang saya sendiri merasa terlalu sukar untuk dilalui. Banyak tekanan ketika saya mulai menghabiskan waktu lebih banyak di depan keyboard untuk berlatih karena saya tahu saya tidak memiliki bakat dibidang musik, hanya dengan kegigihan berlatihlah saya bisa. Mulai dari kelelahan fisik, pekerjaan di toko yang tercecer karena harus membagi fokus, pemainan musik yang sering ada kesalahan, bahkan sampai disuruh berhenti dari kegiatan bermusik karena dianggap tidak mampu. Lebih menyedihkan lagi terkadang tekanan ini datang dari orang yang dekat dengan kita bahkan keluarga tempat saya tinggal. Ketika mendapat tekanan seperti itu saya menjadi berpikir lagi, apa jangan-jangan saya ini terlalu memaksakan diri untuk terjun kedalam bidang bermusik? Apa saya tidak berpikir panjang lagi ketika guru piano saya yang terdahulu yang memang seorang pemusik di gereja menawarkan untuk mengajari saya bermusik ? Melihat kenyataan tersebut memang sempat membuat saya ingin berhenti dari kegiatan bermusik dan mengambil bidang yang saya anggap mampu saja, sehingga saya terbebas dari terpaan-terpaan yang membuat saya goyah. Tapi sekali lagi Tuhan yang memberi jawaban dan kekuatan kepada saya. Tuhan mengingatkan lagi akan kata-kata guru saya ketika saya memulai berlatih piano. Waktu itu saya katakan dia bahwa saya ini orang awan di bidang musik, tapi Ia menjawab dengan penuh keyakinan bahwa “Di dalam Tuhan tidak ada yang mustahil !”. Kata –kata ini yang pertama kali membuat saya yakin untuk menerima tantangan ini dan selalu membuat saya kuat kembali.
Namun ketika kekuatan didapat, saya juga memerlukan konsintensi dalam musik, terlebih dalam semua pelayanan. Konsistensi dalam hal tujuan pelayanan, dan kekudusan hidup kita agar selalu layak dihadapan Tuhan untuk melayani Nya. Memang kadang saya tidak merasa karena hal seperti ini mengalir begitu saja, tetpai kotbah kemarin memang benar-benar menegur hati saya. Apakah pelayanan yang saya lakukan itu merupakan persembahan terbaik yang saya lakukan, tidak jarang ketika pelayan yang saya anggap mudah seperti LCD, atau singer. Saya hanya membutuhkan mwaktu satu hari bahkan beberapa jam saja untuk mempersiapkannya. Berbeda dengan menjadi pemusik ang harus bersiap satu minggu penuh menjaga hati dan pikiran untuk tetap bersih dan layak untuk melayani Nya, terlebih lagi ditolong oleh Nya agar saya mampu karena tahu saya tidak mampu.
Jadi pelayanan itu sebenarnya buat siapa ? Pertanyaan besar yang diajukan pengkotbah yang menjadi bahan koreksi hidup saya juga. Apakan saya hanya ingin mengambil bagian pelayanan yang saya anggap mampu agar saya tidak mendapat terpaan dan cercaan sehingga saya selalu berada di zona aman, atau mengambil bagian dalam pelayanan Tuhan dengan konsekuensi kehidupan yang haru “SELALU” kudus dihapan Nya ? Kiranya ini menjadi renungan bagi saya juga, apa yang saya kerjakan selama ini sudah menjadi persembahan yan hidup dan yang layak bagi Tuhan atau belum. Atau hanya untuk mencari kesibukan atau teman belaka. Karena Tuhan mengingikan dari kita agar kita mempersembahkan hidup kita untuk kemuliaan nama Nya.