Tidak sampai sepuluh menit lagi tahun 2016 akan segera berlalu. Bagi saya tahun 2016 ada tahun yang penuh perubahan. Perubahan status dari berpacaran menjadi bertunangan, perubahan pekerjaan dari wiraswasta menjadi mahasiswa, perubahan pola hidup, perubahan keuangan dan lainnya. Saya bersyukur Tuhan memberikan tahun yang penuh lika liku dan perjuangan ini dengan maksud membentuk saya menjadi seturut kehendak-Nya. Masa masa yang saya lalui sepanjang tahun ini menyadarkan saya akan kehadiran Tuhan setiap saat dalam keadaan yang terburuk sekalipun. Melatih saya untuk percaya pada-Nya dengan penuh. Berikut ini ada berbagai kengan saya sepanjang tahun 2016 ini yg saya rangkum dalam sebuah video berdurasi lumayan panjang. Selamat tahun baru 2017, Tuhan Yesus memberkati.
Sabtu, 31 Desember 2016
Minggu, 04 Desember 2016
Jangan Panik!!
Sabtu kemarin saya pergi ke Malang mengantar teman saya untuk ke dokter. Memang akhir-akhir cuaca sangat tidak menguntungkan buat tubuh. Hujan terus menerus dan berlangsung selama hampir 3 hari belakangan membuat tubuh mudah sakit. Setelah selesai mengantar ke dokter dan mengambil obat di Apotek, kami memutuskan untuk pergi makan. Tempat pilihan kami adalah mie ayam yang biasa menjadi langganan. Tiba di sana, kami memesan 2 porsi untuk dimakan di tempat, dan 2 porsi untuk dibungkus pulang. Suasana tidak terlalu ramai karena bukan jam makan siang, dan kami bisa mendapat tempat duduk dengan mudah. Setelah hampir habis makanan kami, tiba-tiba hujan turun dengan lebat. Kami memutuskan untuk menunggu hingga hujan sedikit mereda dengan memesan satu porsi lagi untuk dimakan bersama. Setelah pesanan datang, tiba-tiba sesuatu hal tidak terduga terjadi. Tabung gas elpiji yang terletak di depan (karena tempat masak makanannya di depan) menyemburkan api. Api diduga berasal dari gas yang bocor dari regulator dan menyambar kompor yang ada di dekatnya. Sontak semua pengujung kaget dan berhamburan. Karena elpiji terletak di depan dekat pintu masuk maka semua pengunjung termasuk kami berdua lari ke belakang. Setiap orang sibuk untuk menyelamatkan diri termasuk saya. Satu hal yang saya pikirkan adalah saya mencari tempat aman jika tabung elpiji ini meledak dampaknya tidak mengenai diri saya. Teman saya sedikit lebih baik, meskipun ia bersembunyi tetapi masih memikirkan bagaimana memadamkan api dengan memberikan handuk. Tapi handuk yang diberikan kering, bukan basah. Akhirnya sang pemilik tempat makan yang juga berada paling dekat dengan tempat kejadian (karena ia yang memasak) menarik selang regulator dan api pun seketika padam.
Pelajaran penting yang saya dapat dalam kejadian heboh ini adalah jangan panik. Mudah dikatakan tetapi sulit dilakukan ketika kejadian berlangsung. Saya juga mengoreksi diri bagaimana saya berusaha menyelamatkan diri saya tanpa mempedulikan orang lain sama sekali, bahkan teman saya ! Memang terkesan rasional, tetapi coba pikirkan lagi bila saya tidak panik dan sibuk menyelamatkan diri. Saya bisa berusaha memadamkan api yang ada, dan masalah bisa segera teratasi.
Sikap jangan panik ketika masalah datang bisa diterapkan dalam segala hal yang saya hadapi. Bagaimana ketika saya menghadapi masalah, saya akan fokus menyelesaikannya bukannya lari dan menyelamatkan diri sendiri. Setiap masalah yang datang pasti ada jalan keluarnya, apalagi saya percaya kalau dalam setiap masalah yang dihadapi ada Tuhan yang selalu beserta.
2 Korintus 10:13 dituliskan "pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya"
Refleksi Film The Hobbit (The Unexpected Journey)
Masa rehat UAS saya manfaatkan dengan marathon nonton. Film yang saya tontong adalah trilogi The Hobbit. Film yang rilis tahun 2012 ini merupakan prekuel dari film The Lord of The Ring. The Hobbit mengisahkan seorang Hobbit (tentunya...) bernama Bilbo Baggins yang tinggal aman, tenteram di Shire kampung halamannya. Tetapi seorang penyihir bernama Gandalf datang dan menawarkan sesuatu yang kemudian merubah seluruh kehidupannya. Itulah mengapa subjudul film yang pertama ini The Unexpected Journey. Sebuah petualangan yang tidak terduga. Bilbo mendapat tawaran untuk bergabung dalam sebuah misi Bangsa Dwarf (Kurcaci) untuk merebut kembali tanah kelahirannya Erebor yang sekarang dikuasai oleh seekor Naga bernama Smaug. Gandalf berkata kepada Bilbo kalau perjalanan yang akan dilalui tidak akan mudah dan berisiko tinggi, tetapi pasti akan mengubah hidupnya. Awalnnya Bilbo ragu dan lebih memilih untuk tinggal di dalam kampung halamannya dan hidup nyaman di rumahnya. Satu keputusan akhirnya diambil dan dia akhirnya ikut dalam rombongan bersama 13 Dwarf ditambah satu orang penyihir.
Cerita film pertama dari trilogi The Hobbit ini menjadi refleksi saya akan panggilan saya untuk menjadi Hamba Tuhan. Kehidupan saya yang nyaman, dengan usaha yang saya kelola, kehidupan pelayanan di gereja, serta pertunangan yang sudah dilakukan membuat saya sudah settle dengan kehidupan saya. Tetapi panggilan Tuhan untuk mengikutinya membuat saya harus meninggalkan semua (kecuali tunangannya saya tentunya :)....), dan memilih untuk menempuh studi di Sekolah Tinggi Teologi Aletheia. Perjalanan yang dijanjikan Tuhan tidaklah mudah, bahkan di awal masuk kampus dikatakan bahwa di sini bukanlah surga, di tempat ini adalah tempat pembentukan, penempaan yang akan mempersiapkan saya menghadapi pelayanan menjadi seorang Hamba Tuhan.
Satu ayat Firman Tuhan yang menguatkan saya untuk menjalani "perjalanan" sebagai seorang pelayan Tuhan fulltime dari Filipi 3 :13b-14 "aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan
sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus."

