Saya tidak tahu harus merasakan apa atas pengalaman yang saya alami kemarin. Yang pasti, awal tahun kemarin menjadi awal tahun yang sangat baik untuk memulai hari-hari di tahun 2012 ini.
Awalnya kami sesama pemuda di gereja kami merencanakan menghabiskan hari pertama di tahun baru fengan pergi kepantai. Segala persiapan sudah dilakukan, termasuk mempersiapkan kendaraan. Tetapi justru mendekati hari H, rencana yang sudah dibicarakan selama beberapa hari akhirnya kandas. Kami terancam tidak melakukan apa-apa di tahun baru.
Setelah selasai ibadah buka tahun pada pk. 10.00 pagi. Kami semua sudah pasrah kalau tahun baru ini akan dihabiskan dengan kegiatan masing-masing. Namun, majelis mengumumkan kalau komisi pemuda diajak pergi ke Surabaya untuk menjenguk hamba Tuhan yang melayani di gereja kami yang pagi tadi baru saja kehilangan ayahnya. Ya, ayahnya meninggal pada pk 01.10 WIB pada tanggal 1 Januari 2012. Kami semua langsung mengiyakan ajakan majelis tersebut. Hal pertama yang terlintas dalam pikiran saya adalah keutungan dibalik kedukaan. Minimal saya bisa menghabiskan tahun baru dengna sedikit berbeda.
Perjalanan kami dimulai pk. 14.00 WIB perjalan dengan dua mobil yang mengakut 18 orang. Meskipun perjalanan macet, hujan, dan mobil yang kami tumpangi panas. Tidak mengurangi keceriaan kami selama perjalanan, Karena kami berangkat bertepatan dengan hari libur nasional, maka arus kendaraan cukup padat. Apalagi hujan cukup deras turun, sehingga para pengendara lebih berhati-hati lagi dalam memacu laju kendaraan mereka.
Akhiranya kami tiba di rumah pembina komisi pemuda kami menjelang sore hari sekitar pukul enam. Kami langsung disambut oleh sang empunya rumah, dan kami langsung menemui ibu dari pembina kami. Dipimpin oleh gembala sidang, dan beberapa majelis kami semua terlibat dalam obrolan mengenai keluarga mereka. Ayah pembina kami yang tadi pagi baru saja meninggal itu ternyata adalah seorang hamba Tuhan yang melayani hingga akhir hayatnya. Dari cerita yang saya dengar, Ia sudah memulai pelayanannya sejak puluhan tahun lalu dan telah merintis beberapa gereja yang saat ini sudah menjadi gereja besar. Sungguh luar biasa bisa melayani Tuhan sampai tiba saatnya Tuhan berkata "Sudah selesai." Kami menghabisakan beberapa waktu lagi untuk menyantap makanan yang disuguhkan oleh tuan rumah. Kebetulan kami datang dengna kondisi yang cukup lelah dan lapar. Sehingga makanan yang dihidangkan menjadi sangat berkesan.
Setelah selesai, kami berpamitan dengan keluarga setempat untuk kembali ke Lawang. Tetapi sebelum itu, kami mau memanjakan diri sedikit dengan berjalan-jalan di salah satu Mall besar di Surabaya yang terletak di depan perumahan pembina kami. Wah, sungguh menyenangkan bisa mendapat kesempatan seperti ini. Kami lalu menghabiskan waktu kami di Mall tersebut hingga waktu menunjukkan pk 21.00 WIB. Waktu tersebut adalah kesepakata kami agar kami tidak tiba terlalu malam, karena harus menempuh perjalanan jauh lagi ke Lawang.
Dalam perjalanan pulang tidak terlalu banyak canda dan tawa yang mengiringi, karena mungkin sudah dihabiskan waktu kami berjalan-jalan tadi. Tidak terasa kamipun akhirnya tiba di Lawang sekitar pukul sebelas malam. Semua langsung kembali ke rumah mereka masing-masing dimana masing-masing saya yakin pasti memliki kenangan sendiri akan perjalan tadi. Bagi saya, perjalanan hari itu menjadi suatu kenangan yang tidak terlupakan. Bagaimana tidak, niat hati ingin menghibur orang yang sedang berduka. Saya dan teman-teman juga mendapat bonus untuk bersuka-suka.
Awalnya kami sesama pemuda di gereja kami merencanakan menghabiskan hari pertama di tahun baru fengan pergi kepantai. Segala persiapan sudah dilakukan, termasuk mempersiapkan kendaraan. Tetapi justru mendekati hari H, rencana yang sudah dibicarakan selama beberapa hari akhirnya kandas. Kami terancam tidak melakukan apa-apa di tahun baru.
Setelah selasai ibadah buka tahun pada pk. 10.00 pagi. Kami semua sudah pasrah kalau tahun baru ini akan dihabiskan dengan kegiatan masing-masing. Namun, majelis mengumumkan kalau komisi pemuda diajak pergi ke Surabaya untuk menjenguk hamba Tuhan yang melayani di gereja kami yang pagi tadi baru saja kehilangan ayahnya. Ya, ayahnya meninggal pada pk 01.10 WIB pada tanggal 1 Januari 2012. Kami semua langsung mengiyakan ajakan majelis tersebut. Hal pertama yang terlintas dalam pikiran saya adalah keutungan dibalik kedukaan. Minimal saya bisa menghabiskan tahun baru dengna sedikit berbeda.
Perjalanan kami dimulai pk. 14.00 WIB perjalan dengan dua mobil yang mengakut 18 orang. Meskipun perjalanan macet, hujan, dan mobil yang kami tumpangi panas. Tidak mengurangi keceriaan kami selama perjalanan, Karena kami berangkat bertepatan dengan hari libur nasional, maka arus kendaraan cukup padat. Apalagi hujan cukup deras turun, sehingga para pengendara lebih berhati-hati lagi dalam memacu laju kendaraan mereka.
Akhiranya kami tiba di rumah pembina komisi pemuda kami menjelang sore hari sekitar pukul enam. Kami langsung disambut oleh sang empunya rumah, dan kami langsung menemui ibu dari pembina kami. Dipimpin oleh gembala sidang, dan beberapa majelis kami semua terlibat dalam obrolan mengenai keluarga mereka. Ayah pembina kami yang tadi pagi baru saja meninggal itu ternyata adalah seorang hamba Tuhan yang melayani hingga akhir hayatnya. Dari cerita yang saya dengar, Ia sudah memulai pelayanannya sejak puluhan tahun lalu dan telah merintis beberapa gereja yang saat ini sudah menjadi gereja besar. Sungguh luar biasa bisa melayani Tuhan sampai tiba saatnya Tuhan berkata "Sudah selesai." Kami menghabisakan beberapa waktu lagi untuk menyantap makanan yang disuguhkan oleh tuan rumah. Kebetulan kami datang dengna kondisi yang cukup lelah dan lapar. Sehingga makanan yang dihidangkan menjadi sangat berkesan.
Setelah selesai, kami berpamitan dengan keluarga setempat untuk kembali ke Lawang. Tetapi sebelum itu, kami mau memanjakan diri sedikit dengan berjalan-jalan di salah satu Mall besar di Surabaya yang terletak di depan perumahan pembina kami. Wah, sungguh menyenangkan bisa mendapat kesempatan seperti ini. Kami lalu menghabiskan waktu kami di Mall tersebut hingga waktu menunjukkan pk 21.00 WIB. Waktu tersebut adalah kesepakata kami agar kami tidak tiba terlalu malam, karena harus menempuh perjalanan jauh lagi ke Lawang.
Dalam perjalanan pulang tidak terlalu banyak canda dan tawa yang mengiringi, karena mungkin sudah dihabiskan waktu kami berjalan-jalan tadi. Tidak terasa kamipun akhirnya tiba di Lawang sekitar pukul sebelas malam. Semua langsung kembali ke rumah mereka masing-masing dimana masing-masing saya yakin pasti memliki kenangan sendiri akan perjalan tadi. Bagi saya, perjalanan hari itu menjadi suatu kenangan yang tidak terlupakan. Bagaimana tidak, niat hati ingin menghibur orang yang sedang berduka. Saya dan teman-teman juga mendapat bonus untuk bersuka-suka.
